20 Desember 2014

Review Special Thing in 2014

Sabtu, Desember 20, 2014 0
Just how fast the night changes?
It will never change me and you (kutipan lagu 1D-Night Changes)

Malam terus berganti, waktu terus berputar, umur terus bertambah dan tahun akan terus berubah. Tak terasa saat ini kita tengah berada di penghujung tahun 2014. Padahal baru kemarin rasanya gue membuat resolusi di tahun 2014, eh taunya udah mau 2015. Ohmaygod. Dengan seabrek resolusi yang pernah gue tulis rasanya tahun ini merupakan tahun yang fantastis. Banyak hal baru yang gue alami selam tahun ini. Teman, kuliah, dan kesibukan baru yang kini menjadi rutinitas baru bagi gue.

Kali ini gue akan mengkaji lebih hal dan kejadian apa yang gue alami sepanjang tahun ini. Apakah semua resolusi gue tercapai? Atau hanya tinggal sebuah resolusi yang tahu kapan terwujudnya? Ayo kita mulai mengenang!

AWAL tahun diisi dengan liburan kuliah yang begitu lama namun hanya di rumah saja. Gue bisa bilang ini bukan termasuk impian gue alias resolusi yang gue buat matang-matang GAGAl total. Ya, sebenarnya gue sudah mengumbar janji dengan teman-teman SMA kalau gue bakal liburan ke jakarta, namun rencana hanya tinggal kenangan. Begitu gue memberanikan diri untuk meminta izin, keinginan gue langsung di tolak mentah-mentah oleh orang tua. Jujur sakit banget rasanya gak diijininin untuk liburan, karena gue gak terbiasa memohon sesuatu penolakan ini begitu sakit bagi gue.

Mungkin sebagian orang bisa terbiasa terhadap suatu penolakan, tapi gue gak bisa menghadapinya. Alhasil gue hanya bisa nangis dan mengutuk ketidakberdayaan ini. Walaupun awalnya tak rela, lama-kelamaan gue mulai lupa dan membiasakan diri stay at home selama 2 bulan lamanya. You can imagine how bored I was. Tapi gue gak kehilangan akal, gue berpikir liburan gue tidak boleh terbuang dengan percuma. Gue ikutan lomba blog, review, twitter untuk mengisi hari-hari di rumah. Dan alhamdulillah Tuhan bertindak, gue diberikan keajaiban dengan hadiah menang lomba seperti printer, uang, baju, stiker, sampai domain gratis. Dari sanalah gue mulai mencoba peruntungan lain di dunia blogger.

DI bulan pertama, planning gue memang gagal total, namun tidak dengan bulan kedua. Resolusi gue yang menyebutkan ingin memiliki kamera DSLR akhirnya tercapai juga. Tepat pada 14 Februari kamera DSLR Canon 1100D akhirnya dapat gue miliki. Walaupun tidak full 100 persen dari duit sendiri gue sangat senang bokap mau nambahin kurangnya, juga dapet transferan dari oma yang jauh disana. Sungguh gue senang tak terhingga!

BULAN ketiga merupakan awal perkuliahan di semester 4. Ya, tidak berbeda dengan sebelumnya dunia perkuliahan tetap seperti itu. Kadang tidak ada kegiatan, kadang sibuk, kadang sibuk tak terhingga. Di samping itu organisasi yang gue ikuti tetap berjalan seperti biasa. Bedanya ada saat-saat gue harus pergi sendiri untuk mencari pengalaman baru. Kadang gue merasa bosan dengan rutinitas yang tidak berubah. Dan gue memberanikan diri untuk menjalani beberapa hal itu sendirian, seperti ikut seminar dsb. Dengan itu gue bisa mewujudkan resolusi yang pernah gue buat sebelumnya.

BULAN ketiga, keempat, masih sama seperti yang lain tidak ada hal yang begitu berkesan. Menulis tentang keseharian bersama teman, menulis cerita, menulis opini, ataupun mengikuti kontes blog. Walaupun ada beberapa yang tidak berhasil menang, namun semangat blogger gue masih sangat membara waktu itu.

HINGGA datanglah bulan kelima. Bulan yang tidak pernah gue sangka menjadi bulan yang penuh dengan pengalaman baru. Lewat organisasi satu-satunya yang gue ikuti, akhirnya gue menginjakkan kaki pertama kali di kota Medan sendirian. Ya sendirian, walaupun ke Jakarta ditemenin, tetep aja disananya sendirian. Tetapi pengalaman hidup yang gue dapat disana benar-benar luar biasa.

Gue sendirian dari Lampung dan gak kenal siapapun disana. Gue mencoba untuk berbaur dengan yang lain, walaupun kurang bisa se-asik yang lain alhamdulillah gue tetap bisa berkomunikasi layaknya anak-anak yang lain. Dengan tempat asal yang berbeda dan tempat yang baru pertama kalin gue lihat, gue rasa ini pengalaman luar biasa di tahun 2014. Belum lagi adegan di akhir acara, yang bikin gue terharu banget. Baru kenal seminggu, dan mereka begitu mengganggap gue sebagai keluarga. Ah, luar biasa memang, gue sama sekali gak pernah terpikirkan bisa mengikuti acara di luar kota dan bertemu dengan orang baru, tempat baru, dan itu gara-gara organisasi. Ya, gue rasa gue gak nyesel pernah ikut organisasi ini.

BULAN keenam setelah mengikuti acara di Medan, gue langsung cuss ke Jakarta bareng temen-temen angkatan. Ya, gue rasa resolusi untuk kepengen jalan-jalan terkabul di pertengahan tahun ini. Walaupun di Jakartanya sebentar tetep aja namanya jalan-jalan kan? :D

Selain itu di bulan inilah, bulan dimana gue dinobatkan menjadi pimpinan redaksi di organisasi itu. Sebenarnya sempat menyangka sebelum berangkat ke Medan, tapi tetep aja rasanya kayak gak sanggup bisa mengemban amanah berat untuk setahun ke depan (yang ngomong-ngomong tinggal setengah tahun lagi).

BULAN ketujuh merupakan bulan kelahiran gue. Tahun ini genap sudah gue berumur 19 tahun. Banyak orang bilang gue masih muda dibanding teman-teman yang lain. Tapi tetep aja gue merasa udah tua dan sebentar lagi akan kepala dua. OH NO! Di bulan alhamdulillah ramadhan dan idul fitri masih bisa gue jalani bareng keluarga. Walaupun dengan kondisi berjauhan dari bokap, kita tetap bisa merayakan lebaran bersama setelah itu.

Mungkin tahun ini gue memang gak mendapatkan kue ataupun kado dari keluarga. Tapi gue mendapatkan hadiah terindah yang tidak berupa barang ataupun uang. Ya, akhirnya tahun ini keinginan gue untuk melepas rindu dengan teman-teman SMA terlepaskan juga. Gue beserta keluarga akhirnya pulang kampus dan berlebaran disana. Walaupun sebentar banget, alhamdulillah gue bisa kembali melihat kampung dan sekolah yang penuh dengan kenangan itu. Sungguh, hadiah yang tak ternilai rasanya dapat bercengkrama dengan teman yang sudah kamu anggap sebagai saudara. Akhirnya resolusi gue untuk bertemu teman SMA tercapai juga, walaupun diundur beberapa bulan. :D

BULAN kedelapan, sembilan, sepuluh, sebelas hingga dua belas gue habiskan kembali disini, di Bandar Lampung dengan kegiatan kamus, perkuliahan ataupun organisasi. Sekarang gue sudah memasuki semester 5 yang artinya hampir setengah perjalanan menuju tahap akhir. Ya, gak terasa sekarang sudah punya dua generasi adik tingkat. Udah bisa dibilang tua. Sejauh ini gue belum mempunyai masalah akan hal yang menyangkut nilai-nilai kuliah, dan semoga saja seterusnya.

Hanya saja bulan-bulan terakhir di tahun ini sangat berbeda dengan tahun lalu. Kali ini gue memang cukup disibukkan dengan kegiatan organisasi yang notabene gue pimrednya. Ya, jabatan yang luar biasa di suatu lembaga pers. Ah, sebenarnya bisa dibilang gue gak terlalu mahir di dalam dunia menulis, hanya saja gue suka menulis. Just enough! Semoga aja setengah tahun lagi gue bisa mengemban amanah ini dan menjalankannya sebaik mungkin.

Di samping semua yang telah gue alami sepangjang tahun ini, ada beberapa hal yang membuat gue kecewa dan bersedih. Setengah tahun ini gue menjadi malas untuk menulis di blog. Mungkin karena kesibukan di organisasi, membuat gue gak se-semangat di awal tahun dalam menulis, lihat aja di jumlah entri per bulannya. Hmm, how poor I am.

Selain itu, gue juga belum bisa konsisten dalam menulis. Ya, impian gue untuk bisa menerbitkan buku ataupun cerpen tidak kunjung terjadi hingga ujung tahun ini. Mungkin ini disebabkan karena mood gue yang seringnya anjlok dengan berbagai kesibukan di kampus. Hingga membuat gue mengabaikan resolusi ingin menerbitkan cerpen di percetakan. Dan itu juga berdampak pada resolusi gue yang ingin memiliki penghasilan sendiri, yang tampaknya juga belum kunjung menampakkan jalannya.

Di balik segala pencapaian ataupun kegagalan dari resolusi tahun ini, gue merasa 2014 menjadi tahun terhebat dalam hidup gue. Banyaknya pengalaman baru membuat gue bisa melihat kehidupan lebih luas dan lebih banyak lagi.

"Seseorang tidak akan bisa berkembang jika ia hanya berdiam diri dan tidak melakukan perjalanan"

Semoga tahun depan, lebih banyak pengalaman lagi yang bisa gue dapatkan. Berbagai macam kegiatan ataupun proyek sudah menanti untuk dikerjakan. Semangat menyambut tahun baru, dan juga pastinya resolusi baru!

Happy new year 11 hari lagi!!!

7 Desember 2014

Kebiasaan dan Bakat

Minggu, Desember 07, 2014 1
Ketika membuat postingan ini saya tengah berada di salah satu tempat makan fastfood yang ada di Bandar Lampung. Memang tidak ada yang istimewa disini, tapi yang luar biasa adalah saya kesini hanya seorang diri alias SENDIRIAN. Dengan membawa uang pas-pasan ala anak kosan dan satu unit laptop saya niatkan untuk menghabiskan minggu siang disini. Lagipula saya juga lagi pengen download film lumayankan wifi gratis :D *mahasiswa coyyy*

Mungkin bagi kebanyakan orang seusia saya  tak pernah pede atau berani pergi menghabiskan waktu sendirian. Tapi saya berbeda. Dari dulu saya lebih senang berkeliling sendirian seperti ke pasar atau ke tempat saya suka. Namun bukan berarti saya tidak suka bersosialisasi. Hanya saja, saya membutuhkan waktu sendirian diluar hiruk pikuk orang lain. Dengan begini saya akan bisa berpikir tentang banyak hal dan menjadi lebih tenang.

Balik kesini kembali tempat dimana saya berada saat ini. Dengan memesan paket paling murah yang hanya menghabiskan uang 20 ribu, saya kembali memutar otak agar bisa mengisi perut. Dan yap, saya mencoba membuka line dan alhamdulillah dapat satu potong ayam gratis (walaupun gak gede2 amat), tapi lumayanlah buat menambah isi perut yang keroncongan karena belum makan dari pagi. 

Minggu ini saya memang gak berniat untuk pulang, saya memilih untuk menghabiskan waktu di kosan dan mengerjakan tugas (yang pada akhirnya gak jadi karena gak ngerti). Tapi beneran sebenarnya sama aja ketika saya dirumah dan tetap gak melakukan apa-apa. Mendingan di kosan kan ya. Hmm. Di samping banyaknya tugas kesibukan di perkuliahan, sebenarnya saya juga lagi bingung dan puyeng mikirin amanah di organisasi. Saya ngerasa pesimis buat ngejalanin progja gede yang bagi saya itu merupakan suatu pengalaman baru dan gak mudah untuk menjalaninya. Ditambah juga saya orangnya begitu cuek dan gak pedulian, tapi sungguh saya selalu memikirkannya setiap saat.

Tapi saya ngerasa cuma inilah satu-satunya hal yang lumayan saya kuasai, tapi juga gak bisa dibilang bakat juga. Kalo ngomongin tentang bakat saya memang sangat merasa tidak mempunyai bakat apapun atau bahkan yang terpendam sekalipun. Walaupun banyak orang bilang setiap orang mempunyai bakatnya masing-masing, tapi saya belum bisa merasakannya. Bagi saya menulis merupakan suatu kesenangan dan kepuasan, mampu menuangkan rasa dan kejadian dalam kata-kata itu merupakan kebahagiaan tersendiri.

Orang-orang sering nanya begini ke saya :

"Kamu orang padang kan? Kok gak bisa masak?" atau
"Kamu orang padang kan? Kok gak bisa jualan?" atau
"Kamu orang padang kan? Kok gak kayak orang padang? dan blablabla

Kadang saya cuma bisa jawab dengan senyuman tipis. Jujur, saya emang bingung harus menjawab apa ketika orang-orang bertanya hal-hal semacam itu. Saya dengan kebiasaan yang ada dalam diri saya berusaha untuk menjadi diri sendiri, yang walaupun terkadang membuat orang lain tidak suka. Misalnya saja dengan sifat cuek saya yang sudah keterlaluan. Atau sifat saya yang tidak bisa mendekatkan diri dengan orang lain jika buka dia yang memulainya duluan. Tapi saya tahu apa yang akan saya lakukan ketika orang-orang tidak lagi memedulikan saya. Saya akan tetap menjadi diri sendiri dengan segala sifat baik dan buruk yang akan berusaha untuk saya ubah secara perlahan.

(KFC Coffee Kedaton __ 7 Desember 2014 [14:14])

4 Desember 2014

Tiga Pertanyaan Tentang Kehidupan

Kamis, Desember 04, 2014 1
Hamparan langit malam terbentang luas dengan beberapa bintang yang tidak terlalu terang menemani malamku kali ini. Terlalu lelah rasanya menghadapi kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan. Belum lagi mimpi-mimpi masa lalu yang selalu bergentayangan bak makhluk halus. Ingin rasanya aku kembali terlahir dengan sosok yang berbeda, sosok yang tidak menjadi topeng masa lalu yang terbiasa tertutupi.

Langit malam masih sama, hanya beberapa bintang yang terlihat menemani dengan semilir angin bergemerisik menusuk relung kulitku. Di antara beribu pertanyaan yang pernah menggelayut di benakku setidaknya ada tiga pertanyaan yang hingga sekarang selalu kucari jawabannya. 

Apa sebenarnya tujuan akhir dari sebuah kehidupan?
Jika itu kebahagian, kebahagiaan seperti apa yang diharapkan?
Dan jika kehidupan itu berakhir apakah kebahagian itu akan tetap ada ataumalah berpindah?

Setiap orang mempunyai pemahaman yang berbeda tentang makna kehidupan. Hampir seperlima abad menjalani kehidupan, sedikitnya aku telah mencicipi berbagai fakta dari skenario hidup itu sendiri. Baik itu kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kemarahan ataupun ketidakadilan. Dalam renungku malam ini aku mencoba mencari apa hakikat kebahagiaan yang sebenarnya. Apa yang semua orang harapkan ketika ia tak lagi ada di dunia ini. Apa yang akan ia lakukan sebelum jiwa berpisah dari raga?

Banyak manusia tak menyadari bahwa kehidupan di dunia ini secara tidak langsung telah menyihir mereka untuk melupakan hakikat hidup yang sebenarnya. Semua orang berusaha untuk mencapai impian-impian yang telah mereka tuliskan dari lama. Setelah itu tercapai, mereka akan berusaha menyampaikan pada setiap orang bahwa tidak ada mimpi yang mustahil jika ada usaha yang sungguh-sungguh. Dan seketika akan banyak orang menilai bahwa orang tersebut sudah meraih kategori sukses dalam kehidupan.

Semua orang berlomba untuk memperlihatkan kesuksesan masing-masing. Sang ibu atau sang ayah juga akan menceritakan pada kerabatnya akan kesuksesan yang telah diraih oleh anak mereka. Sang anak juga akan menceritakan atau bahkan menjadi motivator kepada orang lain tentang kesuksesan yang telah dicapainya tersebut. Semua orang akan memandang takjub dengan memohon penuh harap agar hidup mereka dapat seberuntung orang itu.

Lantas apakah dengan kesuksesan yang mereka pikir itu sukses apakah tujuan akhir dalam sebuah kehidupan itu tercapai? Apakah mereka juga bisa dikategorikan dapt meraih hakikat kebahagiaan itu?

Dengan segala pencapaian yang mampu diraih, seperti harta, tahta, jabatan dan kesenangan dunia lain apakah orang-orang pernah berpikir apakah mereka benar-benar bahagia? Apakah mereka bahagia dengan semua pencapaian itu? 

Langit malam secara perlahan berubah warna menjadi keabu-abuan meninggalkan pertanda bahwa semesta akan menurunkan rahmat yang terhingga. Bintang-bintang tak terlihat barang satupun, tertutupi oleh awan yang terlihat bergerak cepat membawa berita gembira bagi yang mengharapkannya dan petaka bagi yang menghindarkannya.

Hidup dengan segala liku liku yang ada pasti tidak selamanya akan selalu berpihak. Ada kalanya setiap orang harus berhadapan dengan ujian ataupun masalah yang menerpa. Terlepas dari itu ujian ataupun masalah, setiap orang akan memiliki batas penyelesaian dari keduanya. Jika semesta memberikan ujian yang terlalu berat maka tak elak banyak orang yang akan mengutuk nasibnya sendiri, bertanya pada tuhan kenapa harus dia yang mendapatkan cobaan ini?

Lantas ketika semua pencapaian itu dahulu datang, tidakkah mereka bersyukur? Tidakkah mereka berpikir banyak orang diluar sana yang tidak seberuntung mereka? Lalu mengapa ketika ujian itu datang mereka seraya mengatakan bahwa tuhan itu tak adil?

Banyak orang ketika meraih kesuksesan yang mereka impikan tidak pernah mau merenungkan apa semua itu benar-benar yang harapkan? Mereka terlalu terlena dengan keberhasilan sehingga  membutakan hakikat kebahagiaan yang sebenarnya merupakan tujuan akhir sebuah kehidupan. Jika mereka mampu menciptakan hakikat kebahagiaan itu sendiri maka ketika ujian itu datang tidak akan ada lagi rasa menyalahkan keadaan atau bahkan menyalahkan tuhan.

Hakikat kebahagiaan itu bisa diibaratkan sebagai sebuah danau dengan mata air yang bening, dan masalah diibaratkan sebagai kotoran Ketika kotoran itu masuk ke dalam danau ia tidak akan bisa bertahan lama, karena mata air yang bening akan selalu mengalir menghantam semua kotoran yang ada. Hal yang sama juga berlaku ketika setiap orang mampu menciptakan hakikat kebahagiaan itu sendiri murni dari hatinya. Jadi ketika masalah atau ujian itu datang ia tidak akan pernah bertahan lama, terhapus oleh beningnya kebahagiaan yang tertancap erat di dalam hati.

Intinya, masalah ataupun ujian itu akan dirasa menyusahkan ketika orang menilai itu sebuah malapetaka. Ketika orang mampu melihat sisi lain dari sebuah masalah maka ia akan mampu menjadi pintu pembuka untuk keberhasilan lain.

Rintik-rintik hujan mulai membasahi alam, namun aku belum berniat untuk berhenti menatap langit. Melanjutkan renungan atas pertanyaan terakhir yang menggelayut. Setelah jiwa tak lagi di raga, apakah kebahagiaan itu juga akan turut hilang atau malah berpindah?

Nyatanya ketika ada orang yang meninggalkan dunia, hanya orang-orang yang kenal dengannyalah yang akan mendoakan, menangisi, atau bahkan meratapinya. Sedangkan yang lain, seolah tidak peduli karena memang tidak pernah berinteraksi atau tidak kenal dengan orang itu. 

Jika semasa di dunia orang itu hanya hidup untuk diri sendiri, untuk kebahagiaan sendiri, maka ketika ia pergi kebahagiaan itu juga akan menjauh mengikuti kepergiaan yang mempunyai jiwa. Namun jika semasa hidup ia bisa menyebarkan kebahagiaan dipunya kepada orang lain, maka kebahagiaan itu akan tetap selalu ada walau ia tak lagi berada di dunia.

Hakikatnya sebuah kebahagiaan sejati bukanlah dinilai dari seberapa banyak harta, seberapa tinggi tahta atau jabatan, atau seberapa disegani orang tersebut. Namun kebahagiaan sejati dapat dinilai ketika ruh dan raga berpisah, orang-orang yang ditinggalkan masih bisa mengenang dan mengagungkan kebaikan yang pernah kamu berikan. Itu sungguh benar-benar kebahagiaan yang sesungguhnya.

Hujan diluar bertambah deras, aku tak lagi menatap langit. Berpindah masuk ke dalam kamar menatap embun hujan yang jatuh di kaca jendela. Semua orang mempunyai presepsi masing-masing tentang arti kehidupan, begitu pula denganku. Malam ini akhirnya kutemukan jawaban penting dari seluruh pertanyaan besarku tentang kehidupan.

(Kamar kosan -- 4 Desember 2014)

29 November 2014

Pertama

Sabtu, November 29, 2014 0
Pernahkah kalian merasa diperlakukan begitu istimewa? Seakan-akan dunia hanya diperuntukkan untuk menyaksikan kebahagiaanmu seorang. Mungkin itulah yang setidaknya pernah kurasakan dulu. Saat dada bergetar hebat. Kupu-kupu kecil bertebangan mengelillingi isi perut. Otak tak dapat berpikir logis. Saat dimana kebahagiaan itu hadir dan mengambil alih semua kehidupan kelammu.

Saat itu aku sempat memohon kepada semesta untuk menghentikan waktu, memperlambat perputaran jam dan membiarkan rasa bahagia mengelilingiku lebih lama lagi. Mungkin aku terlalu takut rasa ini pergi menjauh dan meninggalkanku dengan kehidupanku dulu. Aku dan kekhawatiran ini selalu menjejali setiap ingatan yang tak lekang akan kerasnya kenyataan di depan mata.

Namun aku berusaha untuk tidak memikirkannya dan membiarkannya seperti air yang mengalir. Angin yang berhembus tidak menggoyahkan rasa yang ada padaku atau mungkin padanya juga. Mungkin benar yang sering dikatakan orang, bahwa cinta pertama akan sangat berkesan. Sampai kapanpun rasa pertama yang mampu hinggap di hati itu akan selalu menjadi kenangan terindah.



16 November 2014

Menghapus Kenangan

Minggu, November 16, 2014 0
Mobil itu terus melaju. Berjalan hening menyusuri setiap kenangan yang melintas. Satu persatu ia datang dan dengan mudahnya hilang begitu saja. Aku seorang gadis seperti layaknya gadis lain, ingin menghirup udara cinta dalam kedamaian. Namun tampaknya alam belum mengizinkan. Kaku, hampa, kosong, dan tak ada bunga yang bermekaran. 

Jalan ini masih sama, masih seperti dahulu ketika aku dan kamu bercerita panjang tentang segala hal. Wajah jenaka yang kau tunjukkan membuatku ingin menghentikan jam dinding yang berputar. Ingin rasanya barang sejenak saja, biarkan semua ini terus ada berada di sisiku. Hati ini benar-benar hampa jika semua hilang begitu saja. Biarkan bayangan semu ini menari di rerumputan. Memetik setiap kembang dan membawanya pulang.

Aku dengan sejuta kenangan tak sanggup jika menahannya sendirian. Ketika langkah menapaki setiap tempat, entah mengapa kamu selalu membayang. Enyahlah, biarkan aku sendiri. Pergi ke tempat yang entah dimana rimbanya, aku tak peduli. Ingin berteriak di antara banyaknya kerumunan asing, mengutuk keadaan yang seringkali disesali. Aku, kamu dan semesta tampaknya memang tak pernah sejalan. 

Mobil itu berhenti, menghentikan lamunan panjangku. Menutup semua kenangan yang sengaja kubiarkan menganga. Tampak sepasang kekasih asik bercerita seakan tak mengindahkan alam sekitarnya. Aku dengan kekosongan terus memperhatikan mereka. Berpikir betapa indahnya hidup, ruang hati itu selalu berbunga dan sinar cahaya yang memantul menimbulkan kebahagiaan. Entah apa yang tengah merasukiku kala itu, aku berharap sinar itu padam layaknya kegelapan yang menggelayutiku.

Kamu dengan sejuta bayangan itu belum sepenuhnya bisa kuhapus dari ingatku. Kamu tak tahu betapa besarnya kekuatan kenangan itu bagiku. Kini setelah semua menghilang begitu saja, aku masih tak bisa memaafkan semesta yang tega mengambil semuanya, termasuk kamu. Menyusuri kota dengan kekosongan dan aku begitu kesakitan. Di tengah keramaian asing, aku merasa benar-benar menjadi abu yang tak berguna. 

Jika suatu saat aku tak lagi berada disini, kuingin kau tahu bahwa aku masih merindukan kita. Kita yang dulu kau janjikan, dan dengan mudahnya kau ingkarkan. Ah, biarlah mobil itu terus melaju kencang meninggalkan bangunan tua dan gedung megah dengan muka tak bersalah menertawakanku. Ya, tampaknya aku dengan kebodohan ini diam-diam masih berharap pada keajaiban kuno. 

Seandainya waktu bisa berputar....... Aku tak ingin pernah mengenalmu........ Agar aku tak pernah merasakan kepedihan yang ku tak tahu dimana ujungnya. Biarlah kamu dan waktu terus tenggelam dan tidak menyisakan apapun........ Sampai pada saatnya ruang kosong itu terisi dan aku berjanji benar-benar akan menghapus semua tentang kenangan itu.

15 November 2014

Keluarga Kedua

Sabtu, November 15, 2014 0
Dalam hal apapun, setiap orang akan selalu membutuhkan orang lain.

Mungkin kalimat itulah yang bisa menggambarkan postingan gue kali ini. Setelah sekian lama tidak menulis di blog akhirnya nurani blogger gue memberontak. Sabtu ini gue beranikan diri untuk login blogger yang sudah lumayan lama terbengkalai. Kalau dilihat dari arsip postingan, kalian bisa lihat semakin lama intensitas ngeblog gue semakin menurun. 

Sungguh, gue ngerasa sangat bersalah dan menyesal. Menulis dari dulu merupakan suatu kerutinan bagi gue. Sesibuk apapun itu, sebanyak apapun tugas dan ujian gue akan selalu menyempatkan diri untuk bercerita menumpahkan segala rasa yang ada. Tapi kini, sejak amanah itu mengambil alih kehidupan, gue tak lagi menulis sesering dulu. I'm so regret, you know.

Tapi dibalik itu semua, gue selalu bertekad tak akan berhenti menulis hingga maut menjemput. Terdengar lebay? Menurut gue enggak. Seperti postingan gue yang lampau, bagi gue menulis adalah suatu cara  untuk meluapkan segala beban yang telah memuncak. Sekarang biarlah untaian kata ini menjadi kalimat dan mengalir menghasilkan sebuah tulisan yang dengan tidak sadar akan membuat gue bahagia. Ya, menulis adalah kebahagiaan.

Oke masuk ke topik awal menuju kalimat awal yang gue tulis. Dalam hal apapun setiap orang akan selalu membutuhkan orang lain. Dalam hidup ini tak ada satu orangpun yang bisa bertahan sendiri tanpa bantuan orang lain, termasuk dalam berorganisasi. Organisasi merupakan tempat dimana semua orang saling bahu-membahu untuk bekerja menjalankan tugas yang diamanahkan kepadanya.

Dulu, gue emang gak terlalu mengerti dengan betapa pentingnya berorganisasi. Tapi setelah gue masuk ke dalamnya gue menjadi paham. Semua hal yang dulu gak pernah gue rasakan, sekarang terjadi. Gue menjadi tau banyak hal yang seharusnya kita lakukan tidak harus kita lakukan. Atau hal yang harus kita bicarakan harus dibicarakan. Semua ada batasannya. Semua orang mempunyai karakter yang berbeda. Semua omongan harus dipikirkan terlebih dahulu.

Walaupun begitu, jika semua memang sudah menumpuk dan tak tertahankan ada kalanya kita perlu mencurahkannya. Disinilah letak arti pentingn orang lain yang kita sebut keluarga kedua. Sepahit apapun itu, sekusut apapun itu, dalam sebuah keluarga beban itu memang harus disampaikan. Agar semua mengerti, semua tahu apa yang kita rasa dan apa yang mereka rasa. Kadang kejujuran memang pahit namun begitu melegakan jika semua dapat tertumpahkan.

Dalam organisasi, gue menjadi tahu betapa pentingnya berkompromi, berkoordinasi dan tidak memutuskan segala hal sendiri. Setiap orang pasti membutuhkan orang lain. Ia tak akan bisa bergerak maksimal jika tidak memiliki tim dan tentunya keluarga yang mendukung. Dalam beberapa bulan ke depan banyak hal yang akan gue hadapi, rintangan dan situasi sulit akan gue hadang. Karena gue tau gue mempunyai keluarga yang akan selalu membantu, menyupport dan bekerjasama untuk menyelesaikannya.

Gue yakin, mereka akan selalu ada untuk gue, rumah ini dan keluarga. Gue mencintai semua, gue mencintai keluarga ini tanpa bisa mengutarakannya.So deep.

11 Oktober 2014

Graha Raya Bintaro, Perumahan Idaman Semua Keluarga

Sabtu, Oktober 11, 2014 7
Di suatu pagi yang cerah terdapat sepasang pengantin baru terlibat percakapan serius di balkon rumah orang tuanya. Mereka sedang mendiskusikan rencana lokasi rumah baru yang akan dibelinya. Sang suami menghidupkan laptop dan kemudian mencari referensi tempat tinggal yang nyaman dan strategis yang ada di Jakarta melalui internet. Ia membuka satu persatu halaman website yang disarankan namun tak ada satupun yang menarik perhatiannya.

Sampai suatu ketika sang suami membuka dan melihat sebuah halaman website yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Begitupun dengan sang istri. Di website tersebut dijelaskan bahwa ada Perumahan baru di Tangerang yang bernama Graha Raya Bintaro terletak di tempat yang sangat strategis. Sepasang suami istri itu semakin bersemangat untuk terus melanjutkan membaca penjelasan tentang perumahan Graha Raya tersebut.

Gerbang Perumahan Graha Raya Bintaro
Rumah idaman semua keluarga
Perumahan Graha Raya dibangun oleh PT Jaya Real Property, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang real estate sejak tahun 1979. PT Jaya real Property telah mengembangkan Perumahan Graha Raya Bintaro yang berlokasi di Selatan Jakarta dan terus berkembang hingga wilayah Serpong-Tangerang. Lebih tepatnya terletak di segitiga emas antara Serpong-Jakarta Selatan-Jakarta Barat. Perumahan Graha Raya mempunyai luas lahan yang cukup besar yaitu sebesar 350 ha dan telah dikembangkan 2/3 dari luas lahan tersebut.

Perumahan Graha Raya Bintaro memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Di sekitar perumahan terdapat berbagai fasilitas penunjang yang sangat berguna seperti sekolah, universitas, kawasan komersil, klub olahraga, tempat perbelanjaan dan lain-lain. Sehingga penghuni Graha Raya tidak perlu pusing ketika membutuhkan sesuatu dalam waktu cepat. Selain itu, Perumahan Graha Raya Bintaro juga memiliki keistimewaan dan kemudahan yang tak dimiliki di tempat lain, diantaranya :

1. Akses HANYA 10 menit dari Exit Tol Alam Sutera.
Akses yang mudah menuju GRAHARAYA
Keuntungan pertama ini sangat berguna bagi penghuni Graha Raya yang ingin keluar dari Tol Alam Sutera untuk menjelajahi tempat wisata ataupun keperluan lain. Pasalnya dari Graha Raya ke jalan Exit Tol Alam Sutera hanya membutuhkan waktu 10 menit. Cepat bukan?

2. Akses 10 menit ke IKEA-akses tol JORR W2N menuju ke bandara dan pusat kota Jakarta.
Keuntungan ini sangat berguna bagi penghuni Perumahan Graha Raya yang sering berpergian ke luar kota atau ke luar negeri sekalipun. Karena untuk mencapai bandara Soekarno-Hatta dari Graha Raya tidak membutuhkan waktu yang begitu lama atau terkena macet di jalan. Dengan waktu sepuluh menit saja anda bisa tiba di bandara. Keren!

3. Terletak di jalan utama Bintaro-Graha Raya.
Bagi yang tidak ingin tinggal di pedalaman maka milikilah rumah di Perumahan Graha Raya. Soalnya Graha Raya berada di jalan utama Bintaro-Graha Raya, sehingga bisa dengan mudah menuju ke tempat lain.

4. Akses HANYA 5 menit ke Mal Living World dan Rumah Sakit Internasional.
Bagi anak muda atau ibu-ibu sekalipun yang mempunyai hobi shopping atau nongkrong di Mal, maka tidak perlu lagi pergi ke tempat yang jauh. Pasalnya dari Graha Raya hanya diperlukan akses 5 menit untuk menuju Mal Living World. Selain itu untuk mencapai Rumah Sakit OMNI Internasional juga hanya perlu waktu 5 menit. Wow!

5. Kemudahan akses menuju sekolah, pusat perbelanjaan, restaurant, tempat refreshing.
Kemudahan di poin ini tentu sangat menguntungkan sekali. Penghuni Graha Raya tidak perlu lagi pergi ke pasar yang jauh dari perumahan. Di Graha Raya semuanya telah tersedia. Anak-anak bisa belajar di sekolah yang dekat yaitu sekolah Abdi Siswa. Atau bagi yang kuliah bisa belajar di Universitas Pembangunan Jaya yang tempatnya juga tidak jauh dari perumahan.
Sekolah Abdi Siswa
Selain itu di sekitar perumahan juga terseida Pasar segar, Alfamart, Giant Supermarket bagi para penghuni  yang ingin berbelanja ke pasar ataupun ke supermarket. Jika keluarga ingin menghabiskan waktu refreshing bersama, juga terdapat fasilitas klub keluarga, kolam renang, tempat makan McDonald atau ke tempat destinasi Flavor Bliss Alam Sutera. Kemudahan akses selanjutnya yaitu di sekitar perumahan juga tersedia Bank BCA atau Bank CMB Niaga bagi siapapun yang ingin menabung, men-transfer, dan sebagainya.
Tempat makan MCDonald's
6. Mempunyai Shuttle Bus Graha Raya-Sudirman.
Bagi penghuni yang bekerja di Jakarta Pusat yang melalui jalan Sudirman dan tidak memiliki kendaraan tentu keuntungan ini sangat berguna. Graha Raya menyediakan bus khusus dengan shuttle bus Graha Raya-Sudirman untuk siapapun yang ingin melalui jalan Sudirman.

7. Suasana perumahan asri, tenang, dan nyaman. 
Perumahan yang penuh dengan pepohonan
Perumahan Graha Raya merupakan tempat yang nyaman untuk dijadikan tempat tinggal semua keluarga. Banyaknya pepohonan di sekitar membuat perumahan ini memiliki udara yang sejuk dan asri. Tekstur bangunannya yang elit dan mewah menjadi salah satu alasan mengapa banyak keluarga tidak perlu berpikir dua kali untuk segera mendapatkan rumah idaman mereka.

Setelah mengetahui Perumahan Graha Raya memiliki banyak keuntungan dan kemudahan, tanpa menunggu banyak waktu lagi suami istri tersebut tersenyum dan membuat keputusan penting. Mereka akan segera membeli rumah di Perumahan Graha Raya Bintaro dan kemudian membangun rumah tangga nan harmonis disana. 

Perumahan Graha Raya terus berkembang
Berdiri sejak 35 tahun yang lalu menjadikan PT Jaya Real Property sebagai salah satu pengembang bidang perumahan dan komersial terkemuka di Indonesia. Salah satu tempat yang terus dikembangkannya yaitu Perumahan Graha Raya Bintaro. Perumahan yang terletak di tempat yang strategis ini merupakan tempatnya produk investasi yang sangat menjanjikan.

Buktinya sekarang telah dibangun salah satu hunian terbaru di Graha Raya, yaitu Fortune Terrace. Fortune Terrace merupakan cluster yang terletak di distrik Fortune (distrik premium terbesar Graha Raya). Distrik Fortune Terrace dibangun di atas lahan seluas 40 ha dengan akses langsung ke Jl. Boulevard Utama Graha Raya. Selain Fortune Terrace masih banyak pilihan hunian di Graha Raya, seperti Viola Residence, Fortune Belleza, Cornelia Resindences, Ayanna Residence, dll yang memiliki keunggulannya masing-masing.

Gerbang Fortune Terrace
Dengan berbagai keuntungan dan kemudahan yang didapat, hunian di Perumahan Graha Raya tentunya merupakan pilihan paling tepat bagi siapapun yang ingin bermukim di tempat yang nyaman dan strategis. Karena hanya di Perumahan Graha Raya impian keluarga untuk tinggal di rumah idaman bisa terwujud. 

Jadi tidak ada alasan menolak untuk memiliki rumah dengan lokasi strategis, fasilitas yang lengkap dan suasana yang nyaman ini. Ayo segera miliki rumah idaman anda, di Perumahan Graha Raya Bintaro, semua impian menjadi nyata.

Graha Raya Bintaro, perumahan idaman semua keluarga!


Info :
Berkaitan dengan peluncuran cluster Fortune Terrace yang akan dilakukan pada hari Sabtu, 18 Oktober 2014, Graha Raya mempersembahkan sebuah event launching dengan kejutan hadiah 1 unit mobil Honda Mobilio. Acara ini akan diadakan di BxPark, Bintaro XChange Mall pada pukul 16:00, serta dimeriahkan oleh music performance dan games seru. Jangan sampai ketinggalan ya :)
 
Graha Raya Office: 
Blok A1 No.1 Jl. Bulevar Graha Raya Serpong-Tangerang 15324. 
Phone: 53123000. Info : www.graharaya.com
Atau jika ingin lebih jelas bisa lihat peta di bawah ini.

Graha Raya's Map


(Tulisan ini dikutsertakan dalam Bintaro Blog Writing Contest 2014 oleh Graha Raya)




9 Oktober 2014

Still in My Head

Kamis, Oktober 09, 2014 0
So if I run, it's not enough. You're still in my head, forever stuck (Maroon 5 - Animals)

Postingan pertama di malam Oktober. Setelah berkecimpung di dunia yang tiada jeda, akhirnya kesempatan ini datang juga. Kesempatan kembali menulis, bercerita, membuang segala beban yang mendera. Malam ini aku kembali ingin berkeluh kesah, menumpahkan segala isi jiwa yang ada dan membuatnya hilang tak tersisa.

Tak mudah memang melupakan seseorang yang penuh dengan kenangan indah. Saat semua memori itu kembali merekam setiap jejak penuh tawa. Seberapa kuat tekad ingin menghapusnya, maka jika ia kembali benteng pertahanan itu runtuh. Semua ingatan itu hadir, hati ini kembali luluh. Tak ada yang bisa dipersalahkan, karena sudah rasa yang bercerita, kisah itu tetap akan selalu ada.

Bayangan tentang semua itu tetap akan benderang di ingatku. Hingga suatu saat harapan dan takdir bercampur menjadi satu menjadi sebuah kenyataan. Tak ada lagi yang bisa berkutik. Kau,aku hingga orang-orang di sekeliling kita akan saling menyambut tak menyangka. Dan siapa yang tahu akan hal itu.

Sungguh jika ada sesuatu yang sulit untuk dihapus adalah kenangan indah. Sebenci apapun dan sekuat apapun otak ini ingin menghapusnya ia tetap akan datang kembali memporakporandakan semua yang telah dibangun. Maka itu akan terjadi, kenangan itu kembali, dan ia kembali. Aku yang terlibat tak bisa berbuat apa-apa hanya membiarkan waktu bercengkrama, dan kemudian lihat apa yang terjadi.

Maka jika aku lari tidaklah cukup, Karena kamu akan tetap di benakku, selamanya.

21 September 2014

Alone?

Minggu, September 21, 2014 1
Pernahkan kalian merasa jalan 'sendiri'? Sendiri dalam arti yang sangat luas. Merasa seakan-akan tak ada orang lain atau barangkali kalian benar-benar sendiri. Dan saya pernah merasakan keduanya.

Secara pribadi, tahun ini merupakan tahun yang berat bagi gue. Sungguh. Rasanya gue belum pernah mempunyai beban seberat ini. Mungkin ini akibat pengalaman yang kurang sehingga bagi gue ini sungguhlah berat. Mempunyai amanah itu tidaklah mudah. Setiap hari setiap jam gue selalu memikirkan amanah ini bisa terlaksana atau tidak. Gue merasa tak sanggup.

Gue orangnya super gak-enakan. Bagi gue menyinggung atau memberatkan orang lain itu merupakan suatu masalah. Tak jarang ketika gue menyuruh orang dan dia gak bisa maka gue tak bisa memaksakan. Alhasil gue sendiri yang langsung turun dan mengerjakannya. Sungguh ini suatu beban berat.

Sebenarnya gue merasa sedikit kecewa sama orang-orang yang tak mengerti mengemban amanah. Walaupun jujur gue masih belajar dalam hal ini. Tapi seenggaknya gue berusaha untuk bisa menjalankannya.

Ketika semua menumpuk dan tidak ada lagi ruang untuk menunggu, gue mencoba untuk meminta bantuan. Tak ada yang bisa menolong. Gue merasa untuk apa sebenarnya gue melakukan semua ini? Toh gak ada dampak positif yang gue rasakan sekarang. Yang ada hanya gerutuan yang tak kunjung usai yang bisa keluarkan.

Gue merasa berjalan sendirian di hutan penuh dengan binatang yang tak jinak. Terkadang gue merasa sendiri, tak ada yang menolong. Mungkin karena sifat gak-enakan ini, gue merasa semuanya seakan menjauh dari tanggung jawab. Tapi gue gak menyalahkan siapapun, karena setiap orang mempunyai kesibukan yang berbeda-beda.

Terkadang saat kondisi sempit itu mendekat, gue seakan ingin pergi menjauh dan menghilang. Meninggalkan segala beban yang mengganggu pikiran ini. Menghilang untuk mencari entah apa yang sebenarnya gue inginkan. Tapi bukankah dunia ini merupakan dunia yang gue inginkan? Mengikuti passion sebenarnya itu,  kata banyak orang, sangatlah menyenangkan. Namun sungguh berat ternyata menjalaninya.

(Minggu malam, 21 September 2014)

5 September 2014

Jangan Cemas!

Jumat, September 05, 2014 1
Jalan kehidupan seseorang di dunia ini selalu menjadi sebuah misteri. Tak ada yang tau bagaimana hidup si A ataupun si B di kemudian hari. Apakah orang yang dulu kita anggap kecil dan tak terlihat bisa menjadi orang yang besar suatu saat nanti. Tak ada satupun yang tahu kemana akhir hidup ini kan bermuara. Semua memang benar-benar akan menjadi misteri sampai saatnya waktu itu tiba.

Begitupun aku yang masih menerka kemana jalan hidupku ini kan melangkah. Dari sekian banyak misteri dalam hidup, aku benar-benar tak tahu satu misteri terbesar yang pernah ada, bahkan untuk sekadar cluenya saja. Ialah tentang jodoh.

Hingga usiaku yang sudah menginjak 19 tahun 1 bulan 9 hari ini, semesta masih belum menunjukkan tanda-tanda tulang rusuk kepadaku. Aku hanya bisa tertawa saat teman jauhku bergurau tentang apakabar dengan cowok. Dan aku selalu akan menjawab, "Helloww gue ini masih 19 dan waktu gue masih panjang. Jadi stop bicara tentang cowok,"

Sebenarnya statement-ku ini hanyalah sebuah pelarian agar aku tidak terlalu memikirkan siapa orang yang akan menjadi pedamping hidupku kelak. Ya, mungkin seseorang disana yang tak tahu dimana keberadaannya sudah menanti saat dimana waktu itu akan tiba. Saat dimana kita akan bertemu, saling mengasihi, menyayangiyang akupun tak tahu kapan itu akan terjadi.

Ya, mungkin aku terkesan berlebihan kalau sudah berbicara tentang jodoh. Namun kurasa itu wajar saat mengingat kenyataan bahwa aku sama sekali tak pernah memiliki kekasih alias pacar. Disaat gadis seumuranku atau bahkan gadis di bawah umurku sudah pernah merasakan mempunyai pacar, aku sama sekali tidak pernah. Dan aku juga sama sekali tidak menyesalinya.

Aku hanya merasa kosong, ya cuma itu saja. Aku tahu Tuhan sudah memberikan jalan terbaik untuk hidupku. Jika banyak temanku sudah menemukan pasangan yang tepat untuknya, aku hanya bisa bilang suatu saat aku juga akan menemukannya. Ya dia yang dari dulu menjadi misteri terbesar dari hidupku. Aku akan menunggu dan akan selalu menunggu sampai saat itu tiba.

Aku yakin Tuhan tak melupakanku. Tuhan kan memberi yang terbaik untukku. Baik itu Jodoh, maut atau rejeki aku selalu percaya bahwa sang maha kuasa sudah menggariskannya kepada setiap umat.

Jadi, jangan cemas.
Jangan mencemaskan sesuatu yang Tuhan sudah memberikan jaminan kepada kita.
Jangan mencemaskan hal yang Tuhan sudah simpan untuk kita.
Karena Tuhan itu maha baik, maka tunggulah sampai waktu itu tiba.
Dan kau juga akan bisa merasakan bagaimana indahnya dicintai.


29 Agustus 2014

Belajar dari Angkot

Jumat, Agustus 29, 2014 0
Akhir-akhir ini gue sering bolak balik kampus-rumah karena gue masih males di kosan. Otomatis gue juga bakal sering naek angkot. Gimana enggak? Dari rumah ke kampus harus ditempuh dengan menaiki tiga kali angkot bergantian. Sebenernya gak jauh-jauh amat memang, tapi nunggu angkot lewat itu sama gak pastinya kayak nunggu jodoh yang tak kunjung dateng. #ups.

Oya alesan kenapa gue masih sering ke kampus padahal perkuliahan belom mulai itu karena gue harus ngurusin amanah dan tanggung jawab. Yap, gue ditunjuk jadi salah satu pimpinan di lembaga pers mahasiswa yang gue ikuti dari dua tahun yang lalu. Walaupun hingga sekarang gue masih belom bisa yakin gue bisa menjalani amanah berat ini, tapi gue akan selalu berusaha memberi yang terbaik.

Nah back to angkot. Karena seringnya naek angkot gue jadi hampir hapal wajah sopir angkot di setiap angkot yang berbeda. Dimulai dari angkot merah (dari rumah gue ke simpang terminal), trus angkot kuning (jalan pramuka) dan terakhir angkot biru (terminal rajabasa-kampus). Alamak, kok bisa? Ya iyalah hampir tiap hari gue naek angkot dan terkadang ketemu sama sopir angkot dua hari lalu yang gue ketemui. Haha, sopir angkot memang gak kemana ya.

Selain itu gue juga jadi ikut merasakan bagaimana suka dukanya naek angkot kemana-mana. Pasalnya ortu terlebih emak gue kagak ngebolehin gue bawa motor. Ya sebagai anak yang patuh gue harus tunduklah ya. Alhasil gue jadi tau bagaimana panasnya di angkot yang tak kunjung jalan-jalan. Gue juga jadi tau penderitaan naek angkot yang ngetemnya lamaaa buanget.

Mana harus ngejar waktu takut telat lagi, tapi ntu sopir tetep aja gak pengertian. Dia teteup aja nunggu angkot sampe penuh. Ya alhasil kesellah gue. Tapi gak apalah, dari pada jalan kaki ya. Oya, gue juga pernah satu angkot sama cewek-cewek perokok. Wiih, serem banget deh mana ntu cewek berdua dan gue sendiri lagi. Gue udah susah nahan napas karena kena asep rokok mereka, eh ntu cewek masih aja asik ngerokok di atas angkot, Bener-bener lah ya...

Tapi dibalik banyaknya duka yang gue alami selama naek angkot, gue juga banyak belajar dari sana. Gue banyak merenung tentang hidup, tentang tak semua orang bisa hidup layak seperti kita. Mereka harus bekerja keras untuk menghidupi keluarganya. Tentang pekerjaan yang kebanyakan orang merendahkannya. Gue tau semua pekerjaan apapun itu akan berkah jika seseorang bisa bersungguh-sungguh mengerjakannya.

Gue membuat suatu analogi tentang angkot. 

Walaupun hanya satu penumpang atau bahkan tak ada penumpang di dalamnya, angkot akan terus berjalan ke depan mengantarkan penumpang yangwalaupun hanya satusampai ke tujuannya. Angkot tak pernah berhenti apalagi balik ke belakang. Ia akan terus melaju mencari kesempatan yang siapa tahu keberadaannya.

Tak ada yang tau rejeki itu kapan datangnya. Jodoh, maut, rejeki semuanya ada di tangan Tuhan. Jika Tuhan memang berkehendak, dalam sedetik saja IA akan memberikan kepada umat terpilih. Kita memang tak tahu siapa yang dipilih-Nya, tapi yang pasti orang yang selalu berusaha dan berdoa akan selalu berada dalam lingkaran rahmat-Nya. 

Yap, gue jadi tau pembelajaran itu tak hanya di kelas saja. Diluar sana lebih banyak lagi pembelajaran yang bisa kita dapat, terlebih pelajaran tentang hidup. Pelajaran yang tak akan kita dapatkan di masa sekolah selama 12 tahun. Pelajaran tentang betapa pentingnya menghargai pekerjaan orang lain. Pelajaran tentang mensyukuri.